Kamis, 27 Januari 2011

Gemar Berbohong Bikin Darah Tinggi


KOMPAS.com - Apakah bedanya berbohong dan tidak memberitahukan? Berbohong, mungkin, artinya Anda mengatakan sesuatu yang tidak seperti kenyataannya. Tidak memberitahukan, artinya Anda menyimpan sendiri informasi yang mungkin menyangkut sesuatu yang buruk mengenai orang lain.

Apapun bedanya, kedua hal ini memberikan pengaruh yang sama pada orang yang menerima informasi. Dari sisi orang yang berbohong, ia mungkin akan merasa bersalah, karena tidak memberitahukan seorang teman bahwa suaminya berselingkuh, misalnya. Untuk orang yang tidak bersedia berbohong, rasa tidak nyaman itu mungkin lebih besar daripada perasaan diduakan pasangan.
Tak salah jika Anda merasakan hal ini. Bagi seorang pemula, berbohong akan melepaskan hormon stres. "Peningkatan hormon stres ini bisa menyebabkan detak jantung dan pernafasan meningkat, pencernaan melambat, otot dan serat-serat saraf menjadi hipersensitif," ungkap Saundra Dalton-Smith, MD, penulis Set Free to Live Free: Breaking Through the 7 Lies Women Tell Themselves.

Gejala fisik ini mungkin tidak separah yang dibayangkan, namun bila terus terjadi, hal ini bisa menimbulkan kondisi seperti penyakit arteri koroner, stroke, dan gagal jantung kongestif. Sebab, pada saat berbohong tekanan darah naik ke jantung, dan bisa mengancam hidup Anda dalam jangka panjang. Itu pula sebabnya lie detector sangat akurat untuk uji kebohongan, karena alat ini mengukur lompatan dalam tekanan darah.

Masih diragukan sebenarnya, bahwa satu contoh kebohongan bisa menyebabkan Anda stroke. Namun ada bukti-bukti bahwa semakin sering Anda berbohong, semakin mudah Anda berbohong dalam kesempatan lain. Hal ini sesuai dengan artikel yang diterbitkan di jurnal Consciousness and Cognition edisi November 2010 oleh fakultas psikologi Ghent University di Belgia, “Sering menyampaikan kebenaran membuat berbohong makin sulit, dan sering berbohong membuat berbohong makin mudah."

Mereka yang sehari-hari suka berbohong, atau menyimpan rahasia besar selama bertahun-tahun, mungkin merasa mudah melakukannya dari waktu ke waktu. Namun mereka juga lebih berisiko mengalami kondisi kesehatan yang buruk daripada yang lain. Pembohong yang kronis akan meningkatkan komplikasi dari tekanan darah tinggi, dan penyakit lain yang dikaitkan dengan stres yang kronis, seperti kanker, diabetes, dan penyakit jantung.

Mungkin Anda menyembunyikan sesuatu dari keluarga atau teman Anda karena tak ingin mereka terluka. Namun Anda bisa menyakiti hati orang tersebut bila rahasia itu terungkap dan ia tak mampu menerimanya. Jangan lupa, seperti yang sering dikatakan orang, kita cenderung akan berbohong untuk menutupi kebohongan yang lain. Sudah berdosa, penyakit pun menumpuk di tubuh kita. Maka, bersikap jujur adalah hal terbaik yang bisa Anda lakukan untuk kesehatan badan dan pikiran Anda sendiri.

Enam Kebiasaan Sehat Ini Bisa Bikin Sakit


VIVAnews – Membiasakan diri hidup sehat memang dianjurkan. Tapi, bila Anda sampai menjalaninya secara ekstrim, justru berisiko membahayakan diri sendiri.
"Kegiatan apapun yang dilakukan berlebihan atau terlalu ekstrim, akan menjadi hal tidak baik. Kebiasaan hidup terlalu sehat, terkadang malah bisa merugikan diri sendiri,” kata Dr. Erika Schwartz, Medical Director of Cinergy Health, seperti dikutip dari laman Shine.
Dengan kata lain, Dr. Erika menyarankan agar Anda bisa menjalani kebiasaan-kebiasaan menyehatkan secara normal. Berikut ini beberapa contoh gaya hidup sehat yang bisa menjadi bumerang bila dilakukan terlalu berlebihan:
1. Menggunakan tabir surya berlebihan
Tubuh kita membutuhkan vitamin D untuk membuat tulang sehat dan mencegah penyakit sekaligus meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Satu-satunya cara  mendapatkan vitamin D ke dalam sistem tubuh adalah mendapatkan paparan sinar matahari yang cukup.
Untuk menghindari sinar ultraviolet dari matahari yang bisa merusak kulit, dianjurkan memakai tabir surya (sunblock) sebelum beraktivitas di luar ruangan. Namun, penggunaan lotion pelembab juga sebaiknya tidak terlalu berlebihan karena akan menghalangi masuknya sinar matahari ke kulit.
2. Menggunakan sabun antibakteri dan gel
Sabun antibakteri dan gel sering dibawa dalam tas atau mobil, tetapi kebiasaan ini membuat Anda jadi terobsesi untuk selalu menggunakannya dalam berbagai situasi. Perlu Anda tahu, penggunaan zat antibakteri berlebih bisa melemahkan kemampuan tubuh Anda untuk melawan "bakteri baik."
Sebaliknya, mencuci tangan dengan air hangat dan sabun selama 20 detik akan menjadi cara menjaga kebersihan lebih baik dibandingkan menggunakan sabun antibakteri dan gel.
3. Tidur berlebihan
Idealnya, kita membutuhkan waktu delapan jam untuk tidur di malam hari. Tubuh kita akan segar bila mempunyai kesempatan tidur yang cukup.
Gangguan kesehatan baru muncul bila kita kurang tidur atau bahkan tidur sampai lebih dari 9 jam semalam. Kurang tidur atau terlalu banyak tidur akan berdampak buruk bagi kulit, selain itu menyebabkan kembung, makan berlebihan, kebingungan, dan depresi.
4. Mengandalkan pendingin ruangan
Saat ini, banyak orang memakai pendingin ruangan atau AC di setiap aktivitas kehidupannya. Di semua ruangan rumah dan kantor, dipasang AC untuk mendapatkan udara dingin. Mereka begitu mengandalkan udara dingin daur ulang sepanjang hari dan sepanjang malam.
Tahukah Anda, udara daur ulang dari AC mungkin mengandung bakteri, kuman dan tentunya semua jenis partikel debu. Untuk meminimalisir efek buruk buat kesehatan, sebaiknya Anda lebih bijak memakai AC.
Misalnya, atur sirkulasi dalam setiap ruangan rumah dan kantor yang ber-AC. Setiap beberapa jam, matikan alat pendingin itu dan bukalah jendela. Setelah itu, Anda bisa berjalan-jalan di luar ruangan untuk menghirup udara segar.
Perawatan mesin pendingin juga penting. Jadi, jangan lupa untuk mencuci filter AC dengan air hangat dan sabun. Biarkan peralatan kering terlebih dulu sebelum menggunakannya kembali.
Dan jika Anda bekerja di sebuah gedung perkantoran di mana jendela tidak pernah terbuka, sebaiknya bawalah baju hangat. Ini untuk menjaga suhu inti Anda tetap hangat. Anda dianjurkan untuk keluar, setidaknya untuk makan siang atau istirahat di sore hari.
5. Kecanduan makanan organik
Makanan yang berlabel organik belum tentu benar-benar organik. Bisa jadi, di antaranya masih memakai pestisida. Jadi, bukan hanya harus mengeluarkan uang lebih banyak, Anda juga berisiko tertipu dengan label itu.
Makanan tidak perlu organik untuk disebut sebagai makanan sehat. Dengan penanganan dan pengolahan yang tepat, risiko makanan terkontaminasi zat beracun dapat diatasi.
6. Olahraga berlebihan
Olahraga tidak perlu dilakukan berlebihan secara berlebihan. Tubuh dan pikiran sebenarnya tidak membutuhkan aktivitas olahraga sampai 30-45 menit selama 3-4 hari seminggu.
Jika ingin tetap melakukan olahraga setiap hari, sebaiknya lakukan gerakan yang berbervariasi. Cukup dengan cardio atau latihan aerobik, yoga, pilates, berjalan, atau latihan beban pada hari libur.
Kemudian, hiking, renang, tenis, golf, atau olahraga yang dilakukan secara tim cukup Anda lakukan sebulan sekali atau seminggu sekali.